Tampilkan postingan dengan label Kisah Teladan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kisah Teladan. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 26 Januari 2013

Contoh Kisah Teladan untuk Para Perempuan



" AGAR SURGA TERBUKA PINTUNYA"
Pada suatu hari fatimah bertanya kepada Rosul, siapakah perempuan yang bakal masuk surga pertama kali. Ia menjawab, seorang wanita yang bernama Mutiah. Fatimah terkejut, ternyata bukan dia seperti yang dibayangkan. Mengapa orang lain, padahal ia adalah putra Nabi?
Karena timbul keinginannya untuk mengetahui siapakah Mutiah itu. Apakah gerangan yang diperbuatnya sampai mendapat kehormatan yang begiti tinggi?
Sesudah meminta izin kepada suaminya, Ali bin Abi Thalib, Fatimah berangkat mencari rumah Mutiah. Putranya yang masih kecil Hasan, menangis ingin ikut. Maka digandengnya Hasan.
Tiba d rumah Mutiah, Fatimah mengetuk pintu dan memberi salam, "Assalamu'laikum...!" 
"Alaikumsalam! Siapa diluar?" terdengar jawaban yang lemah lembut dari dalam. Suaranya cerah dan merdu.

"Saya Fatimah, putri Rosululloh."
"Alhamdulillah, alangkah bahagianya saya hari ini. Fatimah sudi berkunjung ke gubung saya," terdengar kembali jawaban dari dalam. Kali ini nyata lebih gembira lagi, dan makin dekat ke pintu.
"Sendirian, fatimah?"
"Aku ditemani Hasan."
"Aduh, maaf ya,' suara itu terdengar menyesal.
"Saya belum mndapat izin untuk enemui tamu laki-laki."
"Tapi Hasan masih kecil."
"Meskipun kecil, Hasan laki-laki. Besok saja datang lagi, saya akan meminta izin kepada suami saya," sahut Mutiah tak kurung kecewanya.
Sambil menggeleng-ngelengkan kepalanya, Fatimah minta permisi.
Besoknya dia datang lagi. Kali ini Husein diajak juga. Bertiga dengan anak-anak yang masih kecil itu Fatimah mendatangi rumah Mutiah. Setelah memberi salam dan dijawab gembira, Mutiah bertanya dari dalam, "Jadi dengan Hasan, Fatimah?" Suami saya sudah memberi izin."
"Ya, dengan Hasan dan Husain."
"Ha, Mengapa tidak bilang dari kemarin? yang dapat izin cuma Hasan. Husain belum. Terpaksa saya tidak bisa menerima juga."
Hari itu Fatimah pun gagal bertemu lagi. Hanya esok harinya baru mereka disambut baik-baik oleh Mutiah di rumahnya.
Keadaan rumah itu sangat sederhana. Tidak ada satupun perabotan mewah. namun semuanya teratur dengan rapi. Tempat tidur yang terbuat dari kayu kasar itu pun bersih sekali. Alasnya putih, agaknya baru dicuci. bau didalam sangat segar, membikin orang betah di rumah.
Fatimah kagum melihat suasana yang sangat menyenangkan itu sehingga Hasan dan husain yang biasanya tidak begitu senang berada di rumah orang kali ini tampak asyik bermain-main.
"Maaf ya," saya tidak menemani Fatimah duduk sebab saya sedang menyiapkan makan buat suami saya," kata Mutiah sambil sibuk di dapur.
Mendekati tengah hari, masakan itu sudah siap semuanya. Lalu ditaruhnya diatas nampan. Mutiah mengambil cambuk, cambuk itu pun ditaruh diatas nampan. Fatimah bertanya, "Suamimu kerja dimana?"
"Di ladang"
"Penggembala?"
"Bukan. Bercocok tanam."
"Tapi mengapa kau bawakan cambuk juga?"
"Oh, itu" sambut Mutiah sambil tersenyum. 
"Cambuk itu saya persiaokan untuk keperluan lain. "Maksud saya begini. Kalau suami saya sedang makan, maka akan saya tanyakan apakah masakan saya cocok atau tidak. Kalau  dia bilang cocok, tak kan terjadi apa-apa. Tetapi, kalau dia bilang tidak cocok, cambuk itu akan saya berikan kepadanya agar dicambuknya punggung saya sebab tidak bisa menyenangkan hati suami."
"Atas kehendak suamimukah kaubawa cambuk itu?"
"Oh, sama sekali tidak. Suami saya adalah orang yang pengasih. Ini semua semata-mata kehendak saya agar jangan sampai saya menjadi istri yang durhaka kepada suami."
Mendengar penjelasan ini Fatimah lantas permisi pulang. Dalam hati ia berkata, pantas kalau Mutiah, perempuan yang masuk surga buat pertama kali, karena baktinya kepada suami begitu besar dan tulus. Perilaku kesetiaan semacam itu bukanlah lambang perbudakan wanita oleh pria. Justru sebaliknya, merupakan cermin bagi citra ketulusan dan pengorbanan kaum wanita yang harus dihargai dengan perilaku yang sama.  

Sabtu, 19 Januari 2013

NENEK KERIPUT, PEMINTA-MINTA DAN RAMBUT GONDRONG


Seorang nenek lanjut usia datang kepada Nabi Muhamad SAW. Dengan sedih dan kuatir ia berkata, "Ya Rasulalloh, apakah saya dapat masuk surga?"
Nabi mengerutkan kening, lalu dengan suara sungguh menyesal dia menjawab, "maaf, Nek, di surga tidak ada orang tua."
Maka nenek-nenek itu pun menangis tersedu-sedu menyesali nasibnya sebagai orang tua. Tetapi Nabi cepat menyambung ucapannya, "Maksud saya bukan Nenek tidak akan masuk surga".
"Jadi?" Nenek bakal masuk surga, tetapi nenek disana akan jadi muda lagi," ucap nabi melegakan.

Nenek itu pun terawa gembira membayangkan nasibnya yang akan jadi perawan kembali di surga. Begitulah cara nabi bercanda. Sekedar menyegarkan suasana, namun tetap menjaga agar selorohnya dapat membahagiakan orang lain, bukan menyakitkan atau menyinggungnya.
Pada hari berikutnya, Nabi didatangi peminta-minnta pada awal masa hijrah, ketika pembangunan masyarakat Madinah belum dapat memakmurkan rakyat.
Oleh Nabi, peminta-minta itu diberinya sedekah. Hari yang lain peminta minta itu datang lagi. Nabi masih memberinya uang. Ketika orang itu mengemis-ngemsi kembali, Nabi tidak memberinya uang lagi atau makanan melainkan sebilah kapak, agar dengan kapak tersebut peminta-minta itu mau bekerja keras mencari nafkah.
Lalu pada suatu saat, Nabi berpapasan dengan seorang pemuda gondrong, dengan rambut tanpa disisir dan awut-awutan. Pemuda itu melihat muka nabi berubah menjadi masam, tampaknya tidak suka kepadanya. ia berpikir apakah karena aku berambut gondrong atau karena aku tidak teratur?
Pada hari berikutnya, dengan bersisir rapi ia keluar dari rumahnya. Di jalan ia bersimpangan dengan nabi. Kali ini Nabi tersenyum ramah kepadanya. Pemuda itu pun tahu bahwa yang tidak disukai Nabi bukan rambut gondrongnya, melainkan ketidakrapihan dan acak-acaknya itu yang tidak suka.

Sabtu, 05 Januari 2013

TAUBATNYA SEORANG PELACUR

Pada zaman Bani Israil, ada seorang perempuan yang sangat cantik. Lekuk-lekuk tubuhnya menggiurkan, dan dia amat pandai mempergunakan kecantikannya buat memikat laki-laki. Tidak sedikit kaum pria baik-baik terjerumus ke dalam rayuannya.
Pintu rumahnya senantiasa terbuka. Dengan sikap serta pakaian yang merangsang, dia duduk diatas tempat tidur. Kain sprenya berwarna merah muda. Senyum manisnya selalu terhambur kepada siapa saja. Tempat tidurnya itu dapat dilihat dari arah pintu. 
Setiap laki-laki yang lewat dan melihatnya, pasti akan tergetar birahinya. Seringkali dari pandangan yang sekilas itu para laki-laki tersebut begitu terangsang hawa nafsunya. Akibatnya, dengan segala cara mereka berusaha mengumpulkan uang, paling tidak sepuluh dinar, untuk memasuki rumah perempuan itu.
Suatu ketika, ada seorang alim muda melewati depan pintu rumahnya. Namun begitu bertatap mata dengan perempuan itu, tubuhnya berkeringat. Dengan segala kemampuan tekadnya, dia berusaha memerangi perasaannya itu. Dia meminta kepada Allah agar melenyapkan hawa nafsu yang rasanya hampir meledak itu. Namun ia tidak mampu mengendalikan diri. Akhirnya, si alim itu nekad. Seluruh pakainnya di jualnya, juga semua miliknya yang lain. Karena masih kurang ia berhutang ke tetangga kanan-kirinya. Setelah kumpul, ia buru-buru berangkat.
Begitu tiba di rumah perempuan itu, ia disuruh menyerahkan uangnya kepada seorang perempuan yang berada di kamar sebelah. Waktu ia kembali ke tempat perempuan itu, pelacur itu sudah bersolek lebih cantik lagi. Ia sengaja membuka sebagian auratnya agar lebih merangsang. Lau ia berbaring di tempat tidurnya. 
Si alim muda, begitu melihat lawan jenis yang meruntuhkan imannya ia telah siap di tempa tidur, buru-buru mendekat dan duduk di sebelahnya. Gemetar sekujur badannya mengalami kejadian yang baru pertama kali ini. 
Namun, rupanya Tuhan masih sayag kepadanya, Rahmat Allah turu sebagai balasan bagi ibadahnya yang tekun dan tobatnya yang sungguh-sungguh pada masa lalu. Ketika tanganya telah terjulur hendak memeluk perempuan itu, tiba-tiba badannya menggigil, dan tumbuh rasa takut dalam hatinya. Bergema disegenap jiwanya kesadaran bahwa Tuhan melihat keadaannya sekarang dan mengawasi semua tindak tanduknya. Berubah seketika wajahnya, memucat bagaikan putihnya salju. 
Si permpuan, waktu melihat perubahan warna muka alim muda tersebut, sangat kuatir dan heran. Ia bertanya, "Apa yang terjadi padamu?" Sakit?" "Tidak saya hanya takut kepada Allah. Izinkanlah saya pergi," jawab si santri ketakutan. "Ha? Gila! Berapa banyak laki-laki yang kepengin sepertii ini sampai mengemis-ngemis. Sedangkan kau, sudah teruskan saja, mau dibatalkan? Tidak Bisa". "Sungguh saya takut kepada Allah. Biarlah sepuluh dinar saya serahkan kepadamu. Asal kau izinkan saya keluar. Karena heran perempuan itupun bertanya. "Diman engkau tinggal? Siapa namamu?" Sesedah pertaanyaa ini dijawab barulah santri itu diperbolehkan keluar. Setiba dirumahnya, santri itu menangisi dosanya dan bertobat kepada Allah.
"Laki-laki itu baru sekali mau berbuat dosa, dia sudah ketakutan seperti itu. Padahal aku sudah berlaku hina sejak bertahun-tahun. Berapa banyak dosayang telah kulakukan? Dengan pikiran-pikiran itu akhirnya perempuan itu berhenti jadi pelacur. Kemudian Ia betobat, pintunya selalu tertutup. Denag teku ia beribadah siang malam, mendekatkan dirii kepada Allah yang telah ditinggalkannya selama ini. Ia bertekad untuk bertemu denga laki-laki itu dan menikah dengannya. 
Karena tekadnya yag sangat kuat,ia pun bersiap-siap mengadakan perjalanan jauh. Sesudah menempuh perjalanan jauh sampailah di kampung yang dituju. Serorang memberi kabar bahwa ada orang yang mencari si alim itu. Kemudian si alim keluar. Betapa terkejutnya dia melihat wanita itu, dia ingat masa lalunya. Saking terkrjutnya ia jatuh dan seketika urat nadinya putus lantaran kaget dan langsung meninggal dunia. Perempuan itu menjerit sedih. Dengan cepat ia menubruk si alim, namun pemuda itu sudah tidak bernyawa. Ia pun menangis menyesali dirinya. mengapa musibah ini terjadi, padahal kedatanganya bermaksud baik. Degan biaya ditanggung ia, mayit si alim itu dikubur baik-baik. Setelah selesai masa berkabung perempuan itu berkata " Saudara-saudara sekalian, kedatangan saya kemari sebetulnya ingin menjadi istri almarhum. Tapi  ternyata takdir berkata lain. Oleh karena itu, apakah kiranya dia punya saudara laki-laki lain yang mau memperistri saya?" Orang-orang menjawab, "Ada, dia punya abang, belum beristri, Dia orang yang shaleh, cuma kelewat miskin." 
Perempuan itu menjawab "itu tidak jadi soal. Hartaku cukup untuk menjamin makan kami berdua sampai mati." Maka kawinlah perempuan itu dengan kakak si Alim. mereka hidup bahagia sampai tua. Dan dari perkawinan mereka lahir tujuh orang laki-laki. Semuanya menjadi pemimpin yang shaleh di kalangan Bani Israil, berkat pendidikan dan lingkungan yang baik. Hal ini sesuai dengan janji Allah bahwa semua dosa, betepepun besar dan kejinya, pasti akan diampuni jika ia bertaubat.