Tampilkan postingan dengan label Artikel dan Makalah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel dan Makalah. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 26 Januari 2013

Prestasi Belajar, Mata Pelajaran, Matematika, Kurikulum Berbasis Kompetensi

Artikel dan Makalah tentang Prestasi Belajar, Mata Pelajaran, Matematika, Kurikulum Berbasis Kompetensi - Pendidikan pada hakikatnya merupakan suatu proses memanusiakan manusia melalui pengembangan seluruh potensinya sesuai dengan tuntutan yang berkembang di lingkungannya. “Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara (UU RI No. 20 tahun 2003).” Upaya meningkatkan kualitas pendidikan dalam mencapai tujuan pendidikan nasional terus menerus dilakukan baik secara konvensional maupun inovatif. Pemerintah telah melakukan upaya penyempurnaan sistem pendidikan nasional, salah satunya dengan pembaharuan dalam bidang kurikulum, yaitu mengganti kurikulum 1994 dengan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK).


Usep Kosasih, Rani Suminar, Roswita, Jajang Hirdiyana, Tita Rosdiana

Jurusan Pendidikan Matematika dan IPA, Universitas Islam Nusantara Bandung
(Jalan Soekarno-Hatta No. 530 Bandung 40286 Tlp. (022)7509655)

ABSTRAK

Pendidikan pada hakikatnya merupakan proses memanusiakan manusia melalui pengembangan seluruh potensinya sesuai dengan tuntutan yang berkembang di lingkungannya. Pemerintah telah berupaya menyempurnakan sistem pendidikan nasional, antara lain dengan pembaharuan kurikulum yang merubah tataran paradigma pembelajaran. Pembelajaran matematika sampai saat ini masih dihadapkan pada masalah besar yaitu siswa tidak mampu mencapai nilai minimum yang disyaratkan dalam ketuntasan belajar. Pembelajaran berdasarkan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK), menyebabkan terjadinya pergeseran dari penekanan isi (apa yang tertuang) ke kompetensi (bagaimana harus berpikir, belajar dan melakukan), perubahan ini diharapkan memberikan hasil yang lebih baik. Bertitik tolak dari hal tersebut, penulis tertarik untuk meneliti prestasi belajar siswa dalam mata pelajaran matematika antara yang menggunakan KBK dengan kurikulum 1994. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya perbedaan prestasi belajar siswa dalam mata pelajaran matematika antara yang menggunakan KBK dengan kurikulum 1994. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif, dengan objek penelitian nilai raport siswa kelas 1 tahun ajaran 2003/2004 dan 2004/2005, sumber data dari Pembantu Kepala Sekolah (PKS) bidang kurikulum dan hasil wawancara dengan guru matematika. Teknik pengumpulan data dengan cara meminta nilai raport kepada PKS bidang kurikulum dan mewawancarai guru matematika. Teknik analisis data menggunakan statistik penelitian untuk dua perlakuan. Berdasarkan hasil pengolahan data diperoleh rata-rata nilai raport kelas yang menggunakan KBK 5,89 dan deviasi standar 0,62, sedangkan kelas yang menggunakan kurikulum 1994 memiliki rata-rata nilai 6,83 dan deviasi standar 0,74. Hasil pengujian hipotesis diperoleh nilai W<W0,01(80) atau 0<1082, berarti terdapat perbedaan prestasi belajar siswa dalam mata pelajaran matematika antara yang menggunakan KBK dengan kurikulum 1994.

Kata kunci : Kurikulum 1994, KBK, Prestasi Belajar.

PENDAHULUAN

Kurikulum 1994 merupakan kurikulum yang berbasis kepada pencapaian tujuan. Pembelajaran yang sering digunakan dalam kurikulum 1994 adalah pembelajaran aktif atau sering disebut Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA). Pengertian CBSA sendiri tidak mudah didefinisikan secara tegas, sebab kadar keaktifan siswa untuk disebut siswa aktif itu tidak sama. “T. Raka Jono (dalam Kusnanto, 2004) menjelaskan bahwa hakikat CBSA menunjuk kepada keaktifan mental, meskipun untuk maksud ini dalam banyak hal dipersyaratkan keterlibatan langsung dalam berbagai keaktifan fisik”. “Mc. Keachi (dalam Kusnanto, 2004) mengemukakan kadar keaktifan CBSA ditentukan oleh tujuh dimensi yaitu: (1) Partisipasi siswa dalam menetapkan kegiatan pembelajaran, (2) Tekanan pada afektif dalam pembelajaran, (3) Partisipasi siswa dalam pelaksanaan pembelajaran terutama interaksi antar siswa, (4) Penerimaan guru terhadap perbuatan dan konstribusi siswa yang kurang relevan bahkan salah sama sekali, (5) Kekohesian kelas sebagai kelompok, (6) Kesempatan yang diberikan kepada siswa untuk mengambil keputusan, (7) Jumlah waktu yang dipergunakan untuk menanggulangi masalah pribadi.”

Sejalan dengan perkembangan zaman, maka kurikulum pun mengalami penyesuaian. Kurikulum 1994 dikaji ulang dan diperbaharui sehingga diberlakukannya Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) pada tahun 2004 sebagai pengganti kurikulum 1994. Sebagai hasil revisi KBK diharapkan dapat memenuhi tuntutan perkembangan zaman. KBK merupakan seperangkat rencana dan pengaturan tentang kompetensi yang dibakukan dengan penerapannya disesuaikan dengan keadaan (kontekstual). KBK dapat diartikan sebagai suatu konsep yang menekankan pada pengembangan kemampuan melakukan (kompetensi) tugas-tugas dengan standar performansi tertentu, sehingga hasilnya dapat dirasakan oleh peserta didik berupa penguasaan terhadap seperangkat kompetensi tertentu. “untuk mengimplementasikan KBK mencakup tiga kegiatan pokok, yaitu : (1) Pengembangan program pengajaran, (2) Pelaksanaan pembelajaran, (3) Evaluasi hasil belajar, (Mulyasa 2002).”

Perbedaan Kurikulum 1994 dengan KBK (Depdiknas 2003) adalah sebagai berikut: (1) Pendekatan penguasaan pengetahuan pada kurikulum 1994 menekankan pada materi berupa kecakapan kognitif, sedangkan KBK menekankan kepada pemahaman, kemampuan atau kompetensi tertentu yang berkaitan dengan pekerjaan di masyarakat. (2) Standar akademis pada kurikulum 1994 diterapkan secara seragam bagi setiap peserta didik, sedangkan pada KBK memperhatikan perbedaan individu. (3) Kurikulum 1994 berbasis konten, sehingga peserta didik dipandang sebagai kertas putih yang perlu ditulisi dengan sejumlah pengetahuan, sedangkan KBK berbasis kompetensi, sehingga peserta didik berada dalam proses perkembangan yang berkelanjutan dari seluruh aspek kepribadian. (4) Pengembangan kurikulum pada kurikulum 1994 dilakukan secara sentralisasi, sedangkan KBK dilakukan secara desentralisasi. (5) Materi yang dikembangkan pada kurikulum 1994 seringkali tidak sesuai dengan potensi sekolah, kebutuhan dan kemampuan peserta didik, serta kebutuhan masyarakat sekitar sekolah, sedangkan pada KBK sekolah diberi keleluasaan untuk mengembangkan silabus mata pelajaran sehingga dapat mengakomodasi potensi sekolah, kebutuhan dan kemampuan peserta didik serta kebutuhan masyarakat sekitar sekolah. (6) Peran guru pada kurikulum 1994 menentukan segala sesuatu yang terjadi di kelas, sedangkan pada KBK bertugas mengkondisikan lingkungan belajar peserta didik. (7) Kecakapan pada kurikulum 1994 dikembangkan melalui latihan, sedangkan pada KBK dikembangkan berdasarkan pemahaman yang membentuk kompetensi individual. (8) Pembelajaran pada kurikulum 1994 cenderung hanya dilakukan di dalam kelas, sedangkan pada KBK mendorong terjalinnya kerja sama antara sekolah, masyarakat dan dunia kerja dalam membentuk kompetensi peserta didik. (9) Evaluasi nasional pada kurikulum 1994 tidak dapat menyentuh aspek-aspek kepribadian peserta didik, sedangkan pada KBK evaluasi berbasis kelas.

Pemberlakuan KBK diharapkan dapat meningkatkan prestasi belajar siswa sehingga dapat mencapai kompetensi yang diharapkan. “Kata prestasi belajar berasal dari bahasa Belanda yaitu practice, kemudian diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia menjadi “prestasi” yang berarti hasil usaha. Arifin (dalam Herdiyana, 2004)”. Menurut “Abas Nurudin (dalam Herdiyana, 2004) pengertian prestasi belajar yaitu hasil belajar dari individu yang dimanifestasikan kedalam pola tingkah laku dan perbuatan, skill dan pengetahuan serta dapat dilihat dari hasil belajar itu sendiri”. “Dalam KBK, penilaian hasil belajar siswa dilihat dari tiga aspek kompetensi, yaitu: (1) Kompetensi kognitif, (2) Kompetensi afektif, (3) Kompetensi psikomotorik (Bloom dalam Depdiknas, 2003).”

Peningkatan prestasi belajar khususnya dalam mata pelajaran matematika, sampai saat ini masih dihadapkan pada masalah besar yaitu sulitnya siswa untuk mencapai nilai minimum yang disyaratkan dalam ketuntasan belajar. Hal ini dikarenakan kurang siapnya sekolah untuk menerapkan KBK. Oleh karena itu, implementasi KBK masih perlu dikaji oleh semua pihak. Bertitik tolak dari hal tersebut, penulis tertarik untuk meneliti prestasi belajar siswa dalam mata pelajaran matematika antara yang menggunakan KBK dengan kurikulum 1994. Rumusan masalah pada penelitian ini adalah “Apakah ada perbedaan antara prestasi belajar siswa SMA dalam mata pelajaran matematika yang menggunakan KBK dengan kurikulum 1994?”.

Penelitian ini bertujuan untuk: (1) Mengetahui ada atau tidak adanya perbedaan prestasi belajar siswa dalam mata pelajaran matematika antara yang menggunakan KBK dengan kurikulum 1994. (2) Mengetahui kesulitan-kesulitan yang dihadapi oleh guru matematika dalam menerapkan KBK. Sedangkan manfaat dari penelitian ini adalah memberi gambaran tentang implementasi KBK dalam pembelajaran matematika di sekolah.

HIPOTESIS

Hipotesis keberadaannya sangat perlu dalam suatu penelitian karena merupakan suatu rumusan yang menunjang tercapainya tujuan penelitian yang berfungsi untuk mengarahkan kegiatan di dalam penelitian. Hipotesis dalam penelitian ini adalah adanya perbedaan prestasi belajar siswa dalam mata pelajaran matematika antara yang menggunakan KBK dengan kurikulum 1994.

METODE PENELITIAN

Penelitian ini menggunakan metode deskriptif yang bertujuan untuk mengetahui bagaimana perbandingan prestasi belajar siswa dalam mata pelajaran matematika antara yang menggunakan KBK dengan Kurikulum 1994. Penelitian dilaksanakan selama dua bulan yaitu pada bulan Mei dan bulan Juni tahun 2005. 

Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas 1 SMA PGRI Rancaekek Kabupaten Bandung tahun ajaran 2003-2004 dan tahun ajaran 2004-2005. Sedangkan sampelnya berupa sampel total yaitu seluruh populasi dijadikan sampel.

Data yang digunakan berupa nilai raport mata pelajaran matematika siswa kelas 1 tahun ajaran 2003-2004 yang menggunakan kurikulum 1994 dan nilai raport siswa kelas 1 tahun ajaran 2004-2005 yang menggunakan KBK serta hasil wawancara yang diperoleh dari guru mata pelajaran matematika. Data nilai raport diperoleh dari pembantu kepala sekolah (PKS) bidang kurikulum. Data-data yang diperoleh digunakan untuk mencari perbandingan antara kedua variabel yang diteliti.

Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah Pedoman Wawancara dengan guru mata pelajaran matematika yang bertujuan untuk mengetahui kesulitan-kesulitan yang dihadapi dalam melaksanakan pembelajaran berdasarkan pada KBK. Hasil pengolahan data nilai raport siswa digunakan untuk melihat ada atau tidaknya perbedaan prestasi belajar.

Data-data yang telah diperoleh diolah dan dianalisis untuk menguji kebenaran dari hipotesis yang diajukan. “Teknik pengolahan data dilakukan dengan menggunakan statistik penelitian untuk dua perlakuan, langkah-langkahnya yaitu: (1) Mengetes normalitas dari distribusi masing-masing; (2) Jika ternyata keduanya berdistribusi normal dilanjutkan dengan pengetesan tentang homogenitas variansinya; (3) Jika ternyata kedua variansinya homogen dilanjutkan dengan tes t; (4) Jika ternyata minimal satu dari dua distribusi tersebut tidak normal, langkah selanjutnya diteruskan dengan menggunakan statistik tak parametrik, yaitu tes wilcoxon; (5) Jika keduanya berdistribusi normal, tetapi variansinya tidak homogen, dilanjutkan dengan tes t’ (Nurgana 1993).”

Langkah-langkah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: (1) Melakukan observasi awal. (2) Membuat instrumen penelitian dan mengkonsultasikannya dengan pembimbing . (3) Mengumpulkan data nilai raport siswa dari Pembantu Kepala Sekolah Bidang Kurikulum (PKS) dan melakukan wawancara dengan guru mata pelajaran matematika. (4) Mengolah dan menganalisis data hasil penelitian serta melakukan pembahasan. (5) Menentukan kesimpulan hasil penelitian.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil pengolahan data diperoleh rata-rata nilai raport untuk kelas yang menggunakan KBK 5,89 dan deviasi standar 0,62, sedangkan untuk kelas yang menggunakan kurikulum 1994 memiliki rata-rata nilai 6,83 dan deviasi standar 0,74. Data nilai raport siswa kelas 1 yang menggunakan kurikulum 1994 dan kelas 1 yang menggunakan KBK dapat dilihat pada tabel 1 dibawah ini. (tabel 1)

Tabel 1. Data Prestasi Siswa

Nilai Raport
4
4.5
5
5.5
6
6.5
7
8
Banyak Siswa








Kurikulum 1994
0
0
0
0
24
0
47
11
KBK
2
1
3
28
26
14
6
0

Berikut adalah hasil pengolahan data secara statistik: Kelas 1 yang menggunakan KBK: Rata-rata:  = 5,89; deviasi standar: σn–1 = 0,62; Chi-Kuadrat: χ2 = 44,1; derajat kebebasan: db = 77; nilai χ2 dari daftar: χ2 0,99 (77) = 100,4; normalitas: χ2 < χ2 0,99 (77) atau 44,1 < 100,4, maka nilai pada kelas 1 yang menggunakan KBK berdistribusi normal. Sedangkan kelas Satu yang menggunakan Kurikulum 1994: Rata-rata: x = 6,83; deviasi standar: σn – 1 = 0,74; Chi-Kuadrat: χ2 = 175,57; derajat kebebasan: db = 80; nilai χ2 dari daftar: χ2 0,99 (80) = 112,3; normalitas: χ2 > χ2 0,99 (80) atau 175,57 > 112,3, maka nilai pada kelas satu yang menggunakan kurikulum 1994 berdistribusi tidak normal. Karena salah satu data berdistribusi tidak normal, maka digunakan tes Wilcoxon (statistik tak parametrik). Tes Wilcoxon diperoleh: (1) daftar rank, (2) nilai W = 0, (3) nilai W dari daftar: W0,01(80) = 1082, (4) Pengujian hipotesis: W<W0,01(80) atau 0<1082.

Hasil dari pengujian hipotesis: W < W0,01(80) atau 0 < 1082 menunjukkan adanya perbedaan prestasi belajar siswa dalam mata pelajaran matematika antara yang menggunakan KBK dengan kurikulum 1994, sehingga hipotesis diterima.

Berdasarkan hasil wawancara dengan salah seorang guru matematika kelas 1 SMA PGRI Rancaekek, kesulitan penerapan KBK dalam pembelajaran adalah adanya Syarat Ketuntasan Belajar Minimun (SKBM) yang disesuaikan dengan (1) sulit tidaknya suatu materi, (2) esensial tidaknya suatu materi, (3) daya dukung sekolah, (4) kemampuan siswa. Nilai SKBM pada mata pelajaran matematika di kelas 1 SMA PGRI Rancaekek adalah 5,0, sehingga apabila ada siswa yang nilainya kurang dari 5,0, maka guru memberikan remedial maksimal tiga kali.

Meskipun nilai rata-rata raport mata pelajaran matematika untuk kelas yang menggunakan KBK lebih kecil dari pada kelas yang menggunakan kurikulum 1994, akan tetapi pada pembelajaran yang menggunakan KBK ketuntasan belajar siswa telah tercapai. Beberapa hal yang menyebabkannya yaitu: (1) Kurangnya pemahaman guru terhadap aplikasi KBK, (2) Guru hanya menggunakan tes sebagai alat penilaiannya, (3) Kurangnya sarana dan prasarana yang dapat membantu mengaplikasikan KBK. Sedangkan kendala-kendala yang dihadapi oleh guru matematika SMA PGRI Rancaekek adalah: (1) Kurangnya alat peraga atau media pembelajaran matematika, (2) Kebijakan pemerintah yang belum jelas seperti SKBM yang selalu berubah, (3) Penilaian pada KBK yang rumit, (4) Adanya kesalahan pada buku laporan siswa.

Berdasarkan hasil pengujian hipotesis, ditemukan perbedaan prestasi belajar siswa antara yang menggunakan KBK dengan kurikulum 1994. Nilai rata-rata pada KBK lebih rendah daripada kurikulum 1994. Kurikulum 1994 menunjukkan hasil yang lebih baik dibandingkan dengan KBK. Hal ini terjadi karena KBK baru dimplementasikan sehingga masih menghadapi berbagai macam kendala dalam penerapannya. Kurang siapnya sekolah dalam memenuhi tuntutan KBK menjadi kendala dalam mengimplementasikan KBK, seperti fasilitas sumber belajar yang kurang memadai, kurang memahaminya guru terhadap prinsip pelakasanaan pengajaran berdasarkan KBK termasuk cara mengevaluasi hasil belajar siswa. Kendala lain adalah kurangnya sosialisasi KBK kepada sekolah atau guru sehingga sekolah menemui hambatan dalam menentukkan SKBM terutama dalam mata pelajaran matematika.

Sedangkan kurikulum 1994 telah diterapkan lebih dari sepuluh tahun, sehingga sekolah sudah dapat menyesuaikan dengan tuntutan kurikulum tersebut. Guru sebagai pelaksana kurikulum pun sudah tidak asing lagi dengan prinsip CBSA, sehingga penerapannya tidak menemui bayak kendala Selain itu Selain itu prinsip-prinsip pengajaran matematika lebih sesuai dengan prisip-prinsip pengajaran CBSA atau kurikulum 1994, sehingga hasilnya lebih baik dibandingkan dengan KBK. Temuan ini menguatkan pendapat Ruseffendi yang mengemukakan “Pembelajaran matematika dengan menggunakan CBSA baik digunakan karena CBSA sudah sesuai dengan prinsip pengajaran matematika modern dan dianjurkan untuk diterapkan (Russeffendi 1991)”

KBK merupakan salah satu hasil pembaharuan dalam bidang kurikulum yang diharapkan dapat meningkatkan prestasi belajar siswa. Kenyataannya, prestasi belajar siswa dengan menggunakan kurikulum 1994 lebih baik apabila dibandingkan dengan KBK. Kondisi ini menunjukan bahwa CBSA masih relevan untuk diterapkan dalam pembelajaran matematika. Hal ini sesuai dengan pendapat yang diungkapakn oleh “Russeffendi (1991) Pembelajaran matematika dengan menggunakan CBSA baik digunakan karena CBSA sudah sesuai dengan prinsip pengajaran matematika modern dan dianjurkan untuk diterapkan”.

KESIMPULAN

Kesimpulan dari penelitian ini adalah: (1) Adanya perbedaan prestasi belajar siswa antara yang menggunakan kurikulum 1994 dengan yang menggunakan KBK. (2) Prestasi belajar siswa pada mata pelajaran matematika yang menggunakan kurikulum 1994 lebih baik dari pada yang menggunakan KBK. (3) Penerapan KBK masih menghadapi kendala yakni kurang siapnya sekolah untuk memenuhi tuntutan KBK tarmasuk kurang pahamnya guru mata pelajaran matematika terhadap teknik evaluasi pada KBK.

DAFTAR PUSTAKA

Direktoriat Dikmenum (2003). Pengembangan Kurikulum dan Sistem Penilaian Berbasis Kompetensi. Jakarta: Depdiknas.

Herdiyana, Yana. (2004). Skripsi Perbandingan Prestasi Belajar Siswa dalam Matematika Antara yang Pembelajarannya Menggunakan Metode Permainan Kartu dengan Metode Ekspositori di Kelas II SLTP Warungkondang Kabupaten Bandung. Bandung: Uninus.

Kusnanto, Imam. (2002). Skripsi Perbandingan Prestasi Belajar Siswa dalam Matematika Antara yang Mendapat Pelajaran pada Jam Awal dengan Jam Akhir di Kelas 1 SMU Pasundan 9 Bandung. Bandung: Uninus.

Mulyasa, E. (2002). Kurikulum Berbasis Kompetensi. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Nurgana, Endi. (1993). Statistik untuk Penelitian. Bandung: CV. Permadi.

Ruseffendi, ET. (1991). Pengantar kepada Membatu Guru Mengembangkan Kompetensinya dalam Pengajaran Matematika untuk Meningkatkan CBSA. Bandung: Tarsito.

Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional (UU RI No. 20 Tahun 2003). Jakarta : Absolut.

Anda sekarang sudah mengetahui Artikel dan Makalah mengenai Prestasi BelajarMata PelajaranMatematika, dan Kurikulum Berbasis Kompetensi. Terima kasih anda sudah berkunjung ke Perpustakaan Cyber.

Selasa, 15 Januari 2013

Proses Fermentasi Singkong, Aspergillus Niger : Artikel dan Makalah

Artikel dan Makalah tentang Proses Fermentasi Singkong, Aspergillus Niger -  Produksi singkong di Indonesia terbilang cukup tinggi. Hal tersebut  disebabkan karena singkong merupakan  tanaman yang mudah tumbuh bahkan  pada kondisi tanah yang miskin akan  unsur hara. Pada masa panen, karena  produksi yang melimpah, harga  jual singkong dapat menurun.  Dalam usaha peternakan, 70% biaya  produksi ditentukan oleh biaya pakan. Oleh karena itu, faktor  keuntungan yang besar dapat diperoleh apabila ransum  dapat dimanipulasi secara efektif dan  efisien, terutama dalam penggunaan bahan  pakan yang kaya akan protein (Manurung,1995). Tuntutan akan kebutuhan pakan  dengan kandungan protein tinggi semakin meningkat. Hal ini menyebabkan  Indonesia harus mengimpor pakan berkualitas baik, terutama dengan kandungan  protein yang tinggi seperti bungkil kedelai dan tepung ikan (Purwadaria et al.,1997). Oleh sebab itu, pengembangan pakan ternak dengan sumber protein  lokal sangat diperlukan.


Pratiwi Erika, Sherly Widjaja, Lindawati, Fransisca Frenny 
Fakultas Teknobiologi, Universitas katolik Indonesia Atma Jaya, Jakarta 

ABSTRAK 

Umbi singkong dapat digunakan sebagai pakan ternak karena kandungan pati  yang tinggi serta nilai jual nya yang rendah. Akan tetapi, kadar protein singkong  sangat kecil (1-3%) sehingga kurang efektif dalam penggunaannya sebagai pakan  ternak terutama unggas. Peningkatan kadar protein singkong dapat dilakukan  dengan proses fermentasi substrat padat. Substrat yang dipakai diberi perlakuan  dengan diseduh terlebih dahulu sebagai  pengganti proses pengukusan dan  disuplementasi dengan amonium sulfat.  Penyeduhan substrat sebelum proses  fermentasi efektif digunakan. Selain  lebih ekonomis, kelangsungan proses  fermentasi tidak terhambat. Penambahan amonium sulfat pada substrat  menjadikan kandungan protein sejati (kadar protein kasar dikurangi sisa nitrogen  amonium sulfat) setelah proses fermen tasi menjadi lebih tinggi dibandingkan  substrat tanpa penambahan amonium sulfat.  Kenaikan nilai kadar protein sejati  mencapai 107%. 

Kata kunci: umbi singkong, protein, Aspergillus niger, amonium sulfat, seduh 

PENDAHULUAN

Umbi singkong memenuhi kriteria seba gai bahan pakan ternak karena memiliki beberapa keuntungan. Keuntungan penggunaan singkong sebagai pakan  ternak antara lain ialah harganya ya ng relatif murah, mudah didapatkan, dan kandungan patinya tinggi sehingga dapat di gunakan sebagai karbohidrat terlarut. Akan tetapi, singkong memiliki kandungan protein yang rendah sehingga diperlukan suatu pengolahan yang dapat me ningkatkan kadar protein dalam umbi singkong tersebut. Peningkatan kandunga n protein pada singkong dapat menjadikan singkong sebagai pakan ternak dengan kualitas yang baik. Fermentasi substrat padat dengan kapang  Aspergillus niger dapat digunakan untuk meningkatkan kadar protein singkong. Umbi singkong yang telah difermentasikan dengan menggunakan kapang A. niger dikenal sebagai  cassava protein (cassapro) (Sinurat  et al., 1995).  

Cassapro memiliki kandungan protein yang lebih tinggi dari bahan asalnya  yaitu singkong. Dengan demikian, cassapro dapat digunakan sebagai bahan  tambahan pada pakan ternak khususnya unggas (Kompiang et al., 1995; Sinurat et al., 1995; Supriyati, 2003). Penambahan cassapro juga memberikan keuntungan  karena apabila ditambahkan pada pakan  ternak utama dapat meningkatkan daya  cerna ternak terhadap pakan tersebut (Kompiang et al., 1995). Hal tersebut  disebabkan karena kemampuan A. niger  untuk menghasilkan enzim-enzim  pencernaan seperti selulase, amilase, protease, fitase, dan mananase yang dapat  membantu mencerna pakan ternak (Ogundero, 1982; Sani et al., 1992; Purwadaria et al., 1997; Purwadaria  et al., 1998).  

Pada proses pembuatan cassapro, substrat  yang dipakai terlebih dahulu dikukus. Hal ini dilakukan untuk mengur angi kontaminasi selama proses  fermentasi dan gelatinasi. Untuk fermentasi dalam skala besar, metode  pengukusan dapat menjadi masalah karena membutuhkan biaya yang cukup besar. Oleh karena itu, gelatinasi dapat dilakukan dengan menyeduh umbi singkong. Penambahan amonium sulfat diharapkan dapat meningkatkan kadar protein  selama proses fermentasi karena akan digunakan kapang A. niger  untuk  membentuk selnya. 

Penelitian ini bertujuan meningkatkan  kadar protein sejati produk cassapro dengan perlakuan penyeduhan dan mengetahui pengaruh penambahan amonium sulfat terhadap peningkata n kadar protein sejati.  

METODOLOGI 

Sumber Isolat dan Substrat  

Isolat kapang yang digunakan ialah inokulum A. niger  dari Balai  Penelitian Ternak. Substrat yang di gunakan berupa substrat umbi singkong kering. Singkong dikupas kulitnya kemudian dicacah dan dikeringkan dengan  sinar matahari. 

Produksi Cassapro 

Sebanyak 800 g singkong dibagi menjad i dua bagian masing-masing bagian 400 g. Setiap bagian diseduh dengan air panas sebanyak 400 ml selama dua jam. Kemudian singkong seduh dimasukkan ke dalam baki terpisah dan 8 g inokulum  A. niger  ditaburkan secara merata.  Satu bagian singkong ditambah dengan 23.2 g dan satu bagian tanpa amonium sulfat. Jadi pada produksi cassapro terdapat dua perlakuan yang berbeda, ya itu perlakuan diseduh tanpa penambahan amonium sulfat dan perlakuan diseduh de ngan penambahan amonium sulfat. Baki ditutup dengan kertas hisap dan disimpan pada suhu 28 oC - 30 oC selama tiga hari untuk proses fermentasi.

Pengamatan Visual Pertumbuhan Kapang 

Pengamatan secara visual dilakukan pada pembentukan air, pertumbuhan miselia dan jumlah spora, serta aroma  yang terbentuk setelah masa inkubasi tiga hari. 

Analisis Kimia 

Analisis kimia dilakukan pada singkong sebelum fermentasi dan cassapro setelah fermentasi. Analisis yang dila kukan meliputi penentuan kadar air, pH, kehilangan bahan kering, kadar protein  kasar dan protein terlarut, serta kadar protein sejati dari masing-masing bagi an. Penentuan kadar air dilakukan dengan menghitung hasil pengurangan bobot singkong  sebelum  dikeringkan  pada  suhu 100 oC dengan bobot singkong yang sudah dikeringkan pada suhu 100 oC yang kemudian dibagi dengan bobot singkong  sebelum dikeringkan dan kemudian dihitung dalam persentase. Pengukuran  pH dilakukan menggunakan pH meter, kadar protein kasar menggunakan metode AOAC (Williams, 1984), penentuan kadar protein terlarut menggunakan met ode Kjeldahl. Kadar protein sejati diperoleh dengan cara mengurangi  total protein dengan protein terlarut (Supriyati, 2003). 

HASIL DAN PEMBAHASAN 

Hasil pengamatan visual terhadap pertumbuhan kapang selama fermentasi substrat padat singkong dengan  A. niger menunjukkan bahwa penambahan (NH4)2SO4 mempengaruhi pembentukkan spora (Tabel 1). Hal ini berkaitan dengan ketersediaan zat gizi, khususnya sumber  nitrogen. Pada perlakuan tanpa amonium sulfat, sumber nitrogen terbatas hanya dari bahan singkong. Oleh karena itu, substrat lebih membatasi pertumbuhan miselia.setelah pertumbuhan miselia terhenti. Spora akan langs ung terbentuk untuk melidungi  dirinya dari cekaman kekurangan zat gizi. Dengan demikian, pada perlakuan dengan amonium sulfat, pertumbuhan miselia menjadi lebih baik.   

Tabel 1.  Fermentasi singkong dengan penyeduhan dan penambahan (NH4)2SO4 menggunakan Aspergillus niger

Perlakuan Singkong
Miselia
Jumlah Spora
Aroma
Kandungan Air
Seduh + (NH4)2SO4
Banyak
Sedang
Kurang Menyengat
Banyak
Seduh  - (NH4)2SO4
Banyak
Banyak
Menyengat
Banyak

Berdasarkan pada pengamatan kuantitatif terjadi penurunan pH setelah fermentasi selama tiga hari (Tabel 2). Perubahan pH yang terjadi setelah proses fermentasi menurun pada singkong yang diseduh dengan air panas, baik pada perlakuan yang diberi penambahan ataupun tanpa penambahan amonium sulfat. Akan tetapi, penurunan pH pada perlakuan penambahan amonium sulfat lebih besar (2.64) dibandingkan dengan tanpa penambahan amonium sulfat (1.41).

Penurunan pH ini merupakan bukti telah terjadi proses fermentasi yang dilakukan oleh kapang di mana karbohidrat singkong diubah oleh amilase dan selulase kapang menjadi glukosa (Purwadaria et al., 1997) yang kemudian diubah menjadi asam. Pada perlakuan dengan amonium sulfat, pertumbuhan kapang menjadi lebih baik sehingga karbohidrat yang dipecah menjadi asam lebih tinggi. Dengan demikian, proses fermentasi pada substrat yang diberi perlakuan dengan amonium sulfat berlangsung lebih baik dibandingkan dengan proses fermentasi tanpa amonium sulfat.

Tabel 2 Hasil analisis kimia cassapro sebelum dan sesudah fermentasi

Analisis Kimia

Masa Inkubasi
(hari)
Perlakuan (NH4)2SO4
Dengan
Tanpa
Nilai pH

0
6.42
6.41
3
3.78
5.00
Kadar air (%)

0
51.20
49.60
3
52.34
49.84
Kehilangan bahan kering (%)

0
0.00
0.00
3
8.48
6.49
Kadar protein kasar (%)

0
9.42
2.10
3
12.06
2.90
Kadar protein terlarut (%)

0
6.20
0.00
3
5.43
0.00
Kadar protein sejati (%)

0
3.32
2.17
3
6.87
2.98

Kadar air setelah fermentasi pada perlakuan dengan penambahan amonium sulfat mengalami peningkatan sedikit lebih tinggi (1.14%) dibandingkan dengan perlakuan amonium sulfat (0.24%). Pada perlakuan amonium sulfat pertumbuhan kapang lebih baik sehingga lebih meningkatkan kadar air respirasi yang dilakukan oleh kapang.

Penurunan bahan kering terjadi pada singkong dengan perlakuan ammonium sulfat dan singkong tanpa amonium sulfat. Penurunan bahan kering tersebut menunjukkan adanya bahan kering singkong yang hilang selama proses fermentasi. Kapang yang tumbuh selama fermentasi kemungkinan menyebabkan terjadinya kehilangan bahan kering singkong (substrat) karena kapang tersebut melakukan proses respirasi yang merubah bahan kering organik singkong menjadi air dan karbon dioksida selama proses fermentasi untuk proses pertumbuhannya.

Oleh karena itu, semakin besar kehilangan bahan kering, semakin baik pula pertumbuhan mikroorganismenya. Pada perlakuan dengan atau tanpa penambahan amonium sulfat nilai persentase kehilangan bahan kering cukup besar (8.48 versus 6.49%). Nilai persentase kehilangan bahan kering pada perlakuan dengan amonium sulfat lebih besar dibandingkan dengan perlakuan tanpa amonium sulfat. Kapang menggunakan amonium sulfat sebagai sumber nitrogen sehingga pertumbuhannya menjadi lebih baik.

Kadar protein sejati pada singkong dengan perlakuan amonium sulfat setelah fermentasi selama tiga hari mengalami peningkatan, yaitu dari 2-3% pada 0 hari menjadi 2-6% setelah fermentasi selama 3 hari. Peningkatan kadar (%) protein sejati menunjukkan adanya protein yang terbentuk selama proses fermentasi. Hal ini disebabkan karena kapang menggunakan amonium sulfat sebagai sumber nitrogen untuk membuat protein dengan energi dan sumber karbon dari proses pemecahan pati singkong. Sedangkan pada singkong dengan perlakuan tanpa amonium sulfat, kapang hanya sedikit membentuk protein karena Kadar air setelah fermentasi pada perlakuan dengan penambahan amonium sulfat mengalami peningkatan sedikit lebih tinggi (1.14%) dibandingkan dengan perlakuan amonium sulfat (0.24%). Pada perlakuan amonium sulfat pertumbuhan kapang lebih baik sehingga lebih meningkatkan kadar air respirasi yang dilakukan oleh kapang.

Penurunan bahan kering terjadi pada singkong dengan perlakuan ammonium sulfat dan singkong tanpa amonium sulfat. Penurunan bahan kering tersebut menunjukkan adanya bahan kering singkong yang hilang selama proses fermentasi. Kapang yang tumbuh selama fermentasi kemungkinan menyebabkan terjadinya kehilangan bahan kering singkong (substrat) karena kapang tersebut melakukan proses respirasi yang merubah bahan kering organik singkong menjadi air dan karbon dioksida selama proses fermentasi untuk proses pertumbuhannya.

Oleh karena itu, semakin besar kehilangan bahan kering, semakin baik pula pertumbuhan mikroorganismenya. Pada perlakuan dengan atau tanpa penambahan amonium sulfat nilai persentase kehilangan bahan kering cukup besar (8.48 versus 6.49%). Nilai persentase kehilangan bahan kering pada perlakuan dengan amonium sulfat lebih besar dibandingkan dengan perlakuan tanpa amonium sulfat. Kapang menggunakan amonium sulfat sebagai sumber nitrogen sehingga pertumbuhannya menjadi lebih baik.

Kadar protein sejati pada singkong dengan perlakuan amonium sulfat setelah fermentasi selama tiga hari mengalami peningkatan, yaitu dari 2-3% pada 0 hari menjadi 2-6% setelah fermentasi selama 3 hari. Peningkatan kadar (%) protein sejati menunjukkan adanya protein yang terbentuk selama proses fermentasi. Hal ini disebabkan karena kapang menggunakan amonium sulfat sebagai sumber nitrogen untuk membuat protein dengan energi dan sumber karbon dari proses pemecahan pati singkong. Sedangkan pada singkong dengan perlakuan tanpa amonium sulfat, kapang hanya sedikit membentuk protein karenaKadar air setelah fermentasi pada perlakuan dengan penambahan amonium sulfat mengalami peningkatan sedikit lebih tinggi (1.14%) dibandingkan dengan perlakuan amonium sulfat (0.24%). Pada perlakuan amonium sulfat pertumbuhan kapang lebih baik sehingga lebih meningkatkan kadar air respirasi yang dilakukan oleh kapang.

Penurunan bahan kering terjadi pada singkong dengan perlakuan ammonium sulfat dan singkong tanpa amonium sulfat. Penurunan bahan kering tersebut menunjukkan adanya bahan kering singkong yang hilang selama proses fermentasi. Kapang yang tumbuh selama fermentasi kemungkinan menyebabkan terjadinya kehilangan bahan kering singkong (substrat) karena kapang tersebut melakukan proses respirasi yang merubah bahan kering organik singkong menjadi air dan karbon dioksida selama proses fermentasi untuk proses pertumbuhannya.

Oleh karena itu, semakin besar kehilangan bahan kering, semakin baik pula pertumbuhan mikroorganismenya. Pada perlakuan dengan atau tanpa penambahan amonium sulfat nilai persentase kehilangan bahan kering cukup besar (8.48 versus 6.49%). Nilai persentase kehilangan bahan kering pada perlakuan dengan amonium sulfat lebih besar dibandingkan dengan perlakuan tanpa amonium sulfat. Kapang menggunakan amonium sulfat sebagai sumber nitrogen sehingga pertumbuhannya menjadi lebih baik.

Kadar protein sejati pada singkong dengan perlakuan amonium sulfat setelah fermentasi selama tiga hari mengalami peningkatan, yaitu dari 2-3% pada 0 hari menjadi 2-6% setelah fermentasi selama 3 hari. Peningkatan kadar (%) protein sejati menunjukkan adanya protein yang terbentuk selama proses fermentasi. Hal ini disebabkan karena kapang menggunakan amonium sulfat sebagai sumber nitrogen untuk membuat protein dengan energi dan sumber karbon dari proses pemecahan pati singkong. Sedangkan pada singkong dengan perlakuan tanpa amonium sulfat, kapang hanya sedikit membentuk protein karena tidak tersedia sumber nitrogen yang melimpah. Peningkatan protein disebabkan karena kehilangan karbohidrat (kehilangan bahan kering) sehingga menyebabkan terjadinya pemekatan protein.

Pertumbuhan kapang dan peningkatan kadar protein dapat dilakukan dengan perlakuan substrat singkong yang diseduh dengan air panas. Selain itu pembentukan protein selama fermentasi membutuhkan penambahan amonium sulfat. Peningkatan kadar protein pada perlakuan dengan penambahan mineral akan lebih tinggi daripada perlakuan tanpa mineral (Kompiang et al., 1994).

Amonium sulfat merupakan mineral yang terdiri atas nitrogen anorganik. Jadi, perlakuan substrat yang terbaik untuk fermentasi substrat padat pada singkong adalah diseduh dengan air panas dan diberi penambahan amonium sulfat. Untuk produksi cassapro sebagai pakan ternak dalam skala besar dapat dilakukan metode penyeduhan sebelum proses fermentasi berlangsung. Metode ini selain bertujuan untuk mengurangi kontaminasi dari kapang dan bakteri dapat pula mengurangi biaya produksi. Biaya produksi yang tinggi disebabkan karena proses pengukusan atau sterilisasi dengan autoklaf membutuhkan banyak biaya dan energi. Melalui hasil penelitian ini terlihat bahwa metode penyeduhan mampu menghasilkan cassapro yang berkualitas dengan biaya produksi dan penggunaan energi yang lebih kecil dari penggunaan metode pengukusan. Dengan demikian apabila ingin memproduksi cassapro sebagai pakan ternak dapat dipakai metode penyeduhan ini agar lebih ekonomis. Selain itu, untuk memperoleh cassapro dengan kandungan protein yang lebih tinggi maka sebelum dilakukan proses fermentasi substrat singkong terlebih dahulu disuplementasi dengan amonium sulfat.

KESIMPULAN

Peningkatan kadar protein sejati pada perlakuan dengan penambahan amonium sulfat setelah tiga hari fermentasi lebih tinggi (3-6%) dibandingkan dengan peningkatan kadar protein sejati tanpa amonium sulfat (2%). Dengan demikian diketahui bahwa pembentukan protein selama fermentasi membutuhkan penambahan amonium sulfat sebagai sumber nitrogennya. Jadi, perlakuan substrat yang baik untuk fermentasi substrat padat ialah diseduh dengan air panas dan diberi penambahan amonium sulfat. Kadar cassapro dalam pakan ternak perlu diteliti lebih lanjut untuk mengetahui batas maksimal pemberian cassapro.

DAFTAR PUSTAKA

Kompiang I.P., Purwadaria T., Darma J., Supriyati K., & Haryati T. 1994. Pengaruh kadar mineral terhadap sintesis protein dan laju pertumbuhan Aspergillus niger. Pros. Sem. Hasil Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi II. Cibinong, 6-7 September, 1994. hlm. 468-473.

Kompiang I.P., Sinurat A.P., Purwadaria T., Darma J., dan Supriyati. 1995. Cassapro in broiler ration: interaction with rice bran. JITV. 1(2):86-88. Manurung T. 1995. Penggunaan hijauan leguminosa pohon sebagai sumber protein ransum sapi potong. JI TV. 1(3):143-148.

Ogundero V. W. 1982. The production and activity of hydrolytic exoenzymes by toxigenic species of Aspergillus from gari. Nigerian J. Sci. 16:11-20.

Purwadaria T., Haryati T., Sinurat A.P., Kompiang I.P., Supriyati, and Darma J. 1997. The correlation between amylase and cellulose activities with starch an fibre contents on the fermentation of cassapro (cassava proein) with Aspergillus niger. Proc. Indonesian Biotechnology Conference. Jakarta, 17-19 Juni, 1997. Vol. I. hlm. 379-390.

Sani A., Awe F.A., dan Akiyanju J. A. 1992. Amylase synthesis in Aspergillus flavus and Aspergillus niger grown on cassava peel. J. Indust. Microbiol. 10:55-59.

Sinurat A.P., Setiadi P., Purwadaria T., Setioko A.R., dan Dharma J. 1995. Nilai gizi bungkil kelapa yang difermentasikan dan pemanfaatannya dalam ransom itik jantan. JITV. 1(3):161-168.

Supriyati. 2003. Onggok terfermentasi dan pemanfaatannya dalam ransum ayam ras pedaging. JITV. 8(3):146-150.

Williams J. 1984. Analytical Official Methods of Chemistry. Mc Graw-Hill Book Co. New York.

Sabtu, 12 Januari 2013

Bahaya atau Dampak Negatif Situs Porno pada Generasi Muda : Artikel dan Makalah

Artikel Ilmiah dan Makalah tentang Bahaya atau Dampak Negatif Situs Porno pada Generasi Muda - Internet merupakan sebuah jaringan komputer yang terdiri dari berbagai macam ukuran jaringan komputer di seluruh dunia mulai dari sebuah personal computer (PC), dan jaringan-jaringan lokal berskala kecil dan menengah (Purwandi, 1997: 1). Ketidakterbatasan ruang lingkup internet yang mampu menembus seluruh jaringan komputer yang ada di seluruh penjuru dunia telah membawa peradaban baru manusia yang mengarah pada suatu perkembangan pengetahuan dan teknologi yang lebih pesat dan cepat. Layanan yang diberikan pun beraneka, seperti situs (Homepage), email, dan sebagainya. Namun realita yang ditemukan ketika menjamurnya warung-warung internet, fasilitas yang lebih digemari untuk dimanfaatkan adalah membuka berbagai jenis situs porno yang dapat membangkitkan syahwat manusia. Bahkan pemakainya lebih mengarah pada kalangan remaja.


Amirul Muslim, Fatimah Sari Siregar, dan Dian Hariyanti

Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara, Medan

ABSTRAK

Pergaulan bebas, hamil di luar nikah, atau kasus aborsi yang banyak terjadi akhir-akhir ini menunjukkan betapa rendahnya etika generasi muda bangsa ini. Fenomena tersebut menarik perhatian kami sebagai tim Peneliti untuk mencari salah satu penyebabnya. Peneliti coba berfokus pada pengguna layanan warung internet yang menyediakan situs porno. Hal ini dilakukan untuk membuktikan terdapat pengaruh yang signifikan antara situs porno pada media internet terhadap etika generasi muda, khususnya perilaku seks remaja yang menyimpang. Dengan menggunakan metode Korelasi Asosiatif (hubungan sebab-akibat), instrumen pengumpul data dengan cara menyebarkan angket kepada subjek penelitian sebanyak 87 orang pengunjung warung internet Triple G II Medan, dan teknik analisis data yang digunakan adalah teknik analisis Korelasi Spearman Rank. Berdasarkan hasil penelitian, hasil yang diperoleh adalah tingginya peminat situs porno yang berdampak pada perilaku seks menyimpang para remaja kota Medan. Kesimpulannya adalah terdapat pengaruh yang signifikan antara situs porno terhadap etika generasi muda, khususnya perilaku seks remaja.

Kata kunci : Situs Porno-Perilaku Seks Remaja

PENDAHULUAN

Hal yang paling dikhawatirkan dari kebiasaan membuka situs porno adalah mempengaruhi timbulnya berbagai aktivitas seks yang menyimpang pada diri remaja, seperti melakukan masturbasi, seks bebas dengan orang lain, dan yang lebih mengerikan lagi adalah tersebarnya penyakit AIDS atau penyakit kelamin yang menuntut nyawa taruhannya. Jika situs porno telah menjadi media untuk membangkitkan gairah seks remaja, maka kesulitan yang akan dihadapi remaja tersebut adalah mengendalikan gairah pada saat keinginan untuk berhubungan badan seks dalam diri muncul (Gilbert dan Lumoindong, 1996:18).

Dengan demikian ada dua rumusan masalah yang akan menjadi landasan kami melakukan penelitian ini, yaitu:
  1. Bagaimana minat pengunjung remaja untuk membuka situs porno pada warung internet Triple G II Medan?
  2. Bagaimana pengaruh situs porno terhadap etika generasi muda, khususnya perilaku seks menyimpang remaja?
Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk menemukan salah satu faktor penyebab maraknya perilaku seks menyimpang di kalangan remaja yang disebabkan oleh kebiasaan mengunjungi warung internet untuk membuka situs porno yang menampilkan berbagai bentuk gambar dan tulisan yang bersifat sensualitas dan membangkitkan nafsu syahwat yang melihatnya.

Manfaat yang diperoleh dari penelitian ini adalah sebagai bahan rujukan bagi seluruh lapisan masyarakat agar mewaspadai perkembangan warung-warung internet pada saat ini yang telah dimanfaatkan oleh para remaja untuk melihat hal-hal yang tidak senonoh dan kurang manfaatnya dari pada memfungsikan internet sebagai media untuk memperluas wawasan ilmu pengetahuan. Peneliti berpandangan, kurangnya sikap tegas para aparatur pemerintah terhadap para pengusaha warung internet yang menyediakan fasilitas situs porno sama halnya dengan mengijinkan disebarluaskannya VCD porno.

METODE PENELITIAN

Pendekatan

Penelitian ini dilakukan selama kurang lebih sepuluh hari, terhitung mulai dari penyebaran angket kepada para pengunjung Warnet Triple G II Medan yang berada Jl. Dr. Mansur No. 80A Medan sampai dengan penyerahan laporan hasil penelitian.

Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskripsi kuantitatif dengan instrumen penelitian memanfaatkan penyebaran angket yang bersifat tertutup. Teknik pengambilan sampel yakni menggunakan teknik asidental yang berdasar pada rumus Taro Yamane (Rakhmat, 2002:82), yaitu :
Keterangan :

n : jumlah sampel, 
N: jumlah populasi, 
d2 : tingkat kesalahan penarikan sampel yaitu 10 %) yang sebelumnya peneliti mengajukan pertanyaan secara lisan untuk mengetahui usia pengunjung.

Berdasarkan rumus di atas, diperoleh sampel penelitian sebanyak 87 orang dari 650 orang pengunjung warung internet Triple G II Medan yang memenuhi syarat, yang salah satu syaratnya adalah seluruh remaja dengan rentang usia 14 sampai dengan 24 tahun (defenisi remaja berdasarkan usia sebagai standar batas usia remaja yang dilakukan aparat pemerintah pada saat melakukan sensus penduduk pada tahun 1984).

Operasionalisasi Variabel

Operasionalisasi variable, peneliti sajikan dalam bentuk tabel di bawah ini:

Tabel 1. Operasionalisasi Variabel

Variabel
Operasional Variabel
Variabel Independen 
Situs Porno
Kategori :
1. Gambar Porno
2. Tulisan Porno
3. Karikatur Porno 4. Film Porno
Variabel Dependen 
Etika Generasi Muda
Kategori :
1. Sikap Seks
2. Masturbasi
3. Melakukan Hubungan Seks
4. Kepuasan Pribadi
Variabel Antara 
Generasi Muda
Kategori :
1. Usia
2. Jenis Kelamin
Catatan : Variabel antara diabaikan.

Definisi Situs Porno, Etika, dan Generasi Muda

Tretter (dalam Purwandi, 1997:17) menyatakan bahwa situs (homepage) merupakan sebuah menu yang disajikan dalam sebuah program internet yang merupakan halaman depan dari sebuah alamat informasi. Sedangkan porno diartikan sebagai segala sesuatu baik gambar maupun tulisan yang isinya tidak senonoh atau cabul (Lesmana, 1995,70). Jadi, situs porno adalah salah satu menu yang disajikan pada program internet berupa gambar dan tulisan yang isinya tidak senonoh atau cabul.

Mengenai definisi etika, peneliti lebih condong pada pendapat yang dikemukakan oleh Sudarsono (1991:127), sebagai berikut : Istilah etika yang berasal dari bahasa Yunani yaitu “etos” artinya kebiasaan. Dan kata etika ini juga dikaitkan dengan moral yang dikenal dengan susila. Moral dan etika mengandung arti praktis, ia merupakan ide-ide universal tentang tindakan manusia yang tidak baik dan wajar dalam masyarakat.

Salomoon (1991:7) menambahkan bahwa moralitas lebih khusus merupakan hukum etika. Dengan demikian, bermoral-tidaknya seseorang dalam bertindak dan berperilaku tidak dapat distandarkan pada setiap kalangan masyarakat, melainkan bergantung pada konvensi suatu masyarakat tentang etis atau tidaknya perilaku seseorang.

Generasi muda adalah generasi penerus suatu bangsa. Bila generasi muda suatu bangsa baik, maka baiklah bangsa tersebut di masa yang akan dating, demikian sebaliknya. Hal ini seperti isi GBHN yang menjelaskan bahwa generasi muda sebagai generasi penerus cita-cita perjuangan bangsa dan sumber insani bagi pembangunan nasional, perlu pembinaan dan pengembangan serta diarahkan sehingga menjadi manusia yang berjiwa pancasila.

Generasi muda yang dimaksudkan pada penelitian ini adalah tingkat remaja dengan rentang usia seperti yang disebutkan sebelumnya yaitu antara usia 14 sampai dengan 24 tahun, dan mengabaikan jenis kelamin, pekerjaan, pendidikan, atau tempat tinggal.

Menurut Sarwono (2002:8), remaja adalah suatu periode peralihan perkembangan individu dari masa anak-anak menuju masa dewasa dengan berbagai perkembangannya. Perkembangan tersebut mencakup antara lain sebagai berikut :
  1. Perkembangan biologis seperti matangnya hormon-hormon reproduksi, termasuk perkembangan alat vital.
  2. Perkembangan psikologis, mencakup perkembangan kognitif, emosi, kepribadian, dan moral.
  3. Perkembangan sosiologis yang lebih banyak dipengaruhi oleh lingkungan masyarakat, teman sebaya, lingkungan tempat tinggal, dan media massa.
Namun dalam perkembangan dirinya, hal yang tersulit dihadapi oleh remaja adalah mengendalikan dirinya, terlebih mengontrol seksualitasnya. Saputra (dalam Sarwono, 2002:21), seorang psikiater lulusan Fakultas Kedoteran UI, menyatakan bahwa dorongan seks manusia itu sudah ada semenjak manusia dilahirkan. Oleh karena dorongan seks pada diri manusia sudah ada semenjak lahir ketika ada suatu stimulus yang membangkitkan gairah seks seseorang, maka seketika itu juga orang tersebut akan mencari objek untuk melampiaskan hasratnya tersebut hingga kontrol diri hilang.

Pengukuran dan Penilaian

Angket yang disebarkan kepada para Pengunjung Warnet Triple G II Medan dengan metode asidental dengan berdasar pada rumus Taro Yamane. Berdasarkan instrumen tersebut diperoleh data yang peneliti sajikan dalam bentuk tabel masing-masing variabel, sebagai berikut :

Tabel 2. Distribusi Responden untuk Variabel Independen dengan Empat Kategori Layanan

Kategori : Gambar Porno

No
Jawaban Responden
Frekuensi
Persentase
1
Sangat sering
20
22,99%
2
Sering
47
54,02%
3
Kadang-kadang
19
21,84%
4
Tidak pernah
1
1,15%
J u m l a h
87
100%
Kategori : Karikatur Porno

No
Jawaban Responden
frekuensi
Persentase
1
Sangat sering
6
6,90%
2
Sering
40
45,98%
3
Kadang-kadang
24
27,58%
4
Tidak pernah
17
19,54%
J u m l a h
87
100%
Kategori : Tulisan Porno

No
Jawaban Responden
Frekuensi
Persentase
1
Sangat sering
39
44,83%
2
Sering
23
26,44%
3
Kadang-kadang
15
17,24%
4
Tidak pernah
10
11,49%
J u m l a h
87
100%
Kategori : Film Porno

No
Jawaban Responden
Frekuensi
Persentase
1
Sangat sering
3
3,45%
2
Sering
41
47,13%
3
Kadang-kadang
32
36,78%
4
Tidak pernah
11
12,64%
J u m l a h
87
100%
Catatan : skor untuk masing-masing opsi yaitu :

Sangat sering : 4
Sering : 3
Kadang-kadang : 2
Tidak pernah : 1

Pengunjung yang membuka situs porno dengan kategori gambar porno sebanyak 86 orang (98,85%) dan yang tidak pernah hanya 1 orang (1,15%), kategori karikatur porno sebanyak 70 orang (80,46%) dan yang tidak pernah sebanyak 17 orang (19,54%), kategori tulisan porno sebanyak 77 orang (88,54%) dan yang tidak pernah sebanyak 11 orang (11,49%), dan kategori film porno berjumlah 76 orang (87,36%) dan yang tidak pernah 11 orang (12,64%).

Tabel 3. Distribusi Responden untuk Variabel Dependen dengan Empat Kategori Perilaku

Kategori : Sikap Seks

No
Jawaban Responden
Frekuensi
Persentase
1
Sangat terdorong
36
41,38%
2
Terdorong
27
31,03%
3
Kurang terdorong
19
21,84%
4
Tidak terdorong
5
5,57%
J u m l a h
87
100%
Kategori : Melakukan Hubungan Seks

No
Jawaban Responden
frekuensi
Persentase
1
Sangat terdorong
7
8,04%
2
Terdorong
43
49,43%
3
Kurang terdorong
17
19,54%
4
Tidak terdorong
20
22,99%
J u m l a h
87
100%
Kategori : Masturbasi

No
Jawaban Responden
Frekuensi
Persentase
1
Sangat terdorong
18
20,69%
2
Terdorong
46
52,87%
3
Kurang terdorong
18
20,69%
4
Tidak terdorong
5
5,57%
J u m l a h
87
100%
Kategori : Kepuasan Pribadi

No
Jawaban Responden
Frekuensi
Persentase
1
Sangat terdorong
17
19,54%
2
Terdorong
45
51,72%
3
Kurang terdorong
22
25,29%
4
Tidak terdorong
3
3,45%
J u m l a h
87
100%
Catatan : skor untuk masing-masing opsi yaitu :

Sangat terdorong : 4
Terdorong : 3
Kurang terdorong : 2
Tidak terdorong : 1

Hasil jawaban responden tentang perilaku seks remaja pada masingmasing kategori setelah membuka situs porno memberikan pengaruh yang besar. Untuk kategori sikap seks yang menyatakan sangat terdorong sebanyak 36 orang (41,38%), menyatakan terdorong 27 orang (31,03%), sebanyak 19 orang (21,58%) menyatakan kurang terdorong, dan hanya 5 orang (5,57%) yang menyatakan tidak terdorong. Untk kategori perilaku melakukan hubungan seks yaitu 7 orang (8,04%) menyatakan sangat terdorong, 43 orang (49,43%) menyatakan terdorong, 17 orang (19,54%) menyatakan kurang terdorong, dan 20 orang (22,99%) yang menyatakan tidak terdorong.

Distribusi perilaku seks remaja untuk bermasturbasi yaitu yang menyatakan sangat terdorong 18 oarang (20,69%), menyatakan terdorong 46 orang (52,87%), menyatakan kurang terdorong sebanyak 18 orang (20,69%), dan yang menyatakan tidak terdorong hanya 5 orang (5,57%). Serta untuk kategori kepuasan pribadi distribusi yang diperoleh adalah 17 orang (19,54%) menyatakan sangat terdorong, 45 orang (51,72%) menyatakan terdorong, 22 orang (25,29%) menyatakan kurang mendorong, dan hanya 3 orang (3,45%) menyatakan tidak terdorong.

Guna menguji hipotesis keorelasi antara variabel independen terhadap variabel dependen, peneliti menggunakan rumus Spearman Rank yaitu :
Agar memudahkan pengolahan data, peneliti membuat tabel penolong sebagai berikut :

Tabel 4. Tabel Penolong untuk Menghitung Korelasi Spearman Rank

No.
Variabel
Independen
Variabel
Dependen
Rank Variabel Independen
Rank Variabel Dependen
bi
bi2
1
270
268
1
1
0
0
2
209
211
4
4
0
0
3
265
251
2
3
-1
1
4
210
250
3
2
1
1
J U M L A H
Σbi2 = 2

Berdasarkan tabel penolong di atas, maka data tersebut dimasukkan ke dalam rumus Spearman Rank di atas, dan hasil yang diperoleh harga rho 0,8. namun hasil tersebut belum menjadi patokan untuk menarik kesimpulan, sebab rho tabel terbatas n=30. oleh karena itu, untuk menguji signifikansinya untuk n>30 menggunakan rumus hit t , yaitu :

,dan diperoleh nilai t hit =1,888. maka perlu dibandingkan antara hit t dengan tab t untuk uji dua pihak dengan dk=85 dan tingkat kesalahan 5% diperoleh perbandingan hit t > tab t (1,888>0,679). Dan untuk melihat seberapa besar persentase variable independent terhadap variable dependen, peneliti menggunakan rumus determinasi D = px100% dengan besar persentasenya adalah 80 % (merupakan nilai yang cukup tinggi).

Dengan demikian, hasil yang diperoleh dari penelitian ini yaitu terdapat pengaruh yang signifikan situs porno terhadap etika generasi muda, khususnya perilaku seks remaja yang menyimpang.

PEMBAHASAN


Kegemaran Remaja Membuka Situs Porno


Menjamurnya warung-warung internet pada era globalisasi saat ini, telah banyak memberikan dampak bagi perkembangan remaja. Internet dengan ruang gerak yang tidak terbatas memberikan wacana baru kepada pemakainya untuk lebih mengenali bagaimana perkembangan yang terjadi di seluruh penjuru dunia. Namun fenomena yang dihadapi dari kemajuan tersebut adalah di samping memberikan dampak yang positif bagi ilmu pengetahuan dan teknologi, tetapi juga terdapat dampak yang negatif. Dampak tersebut salah satunya adalah fenomena yang peneliti angkat pada PKMI ini.

Warung-warung internet pada saat ini sangat mudah untuk ditemukan dan dimanfaatkan fasilitasnya, apalagi untuk wilayah pusat kota. Namun yang lebih mengherankan adalah lokasi berdirinya warung-warung internet yang lebih banyak berada di sekitar sekolah atau perguruan tinggi. Memang hal yang tepat jika pemanfaatan warnet lebih difungsikan sesuai dengan fungsi edukatifnya sebagai media pemerolehan informasi dan komunikasi modern untuk menambah pengetahuan tentang perkembangan yang terjadi di seluruh penjuru dunia. Tetapi jika sebaliknya, layanan warnet-warnet yang ada digunakan untuk melakukan hal-hal negatif, seperti membuka situs-situs yang kurang bermanfaat tetntu akan lain pula dampak yang diberikan.

Buktinya adalah seperti karya tulis yang disajikan ini. Ternyata lebih dominan para pengunjung internet menggandrungi situs porno sebagai tujuan mengunjungi warnet. Mulai dari hanya sekedar membuka tulisan-tulisan porno, karikatur porno, sampai pada membuka situs yang menampilkan gambar manusia bugil bahkan praktek melakukan hubungan senggama. Jelas kesemuanya itu secara kodrati manusia akan membangkitkan gairah seks. Timbulnya perasaan dipengaruhi oleh rangsangan atau stimulus tertentu, seperti rangsangan seksual dan rangsangan emosional (Rakhmat, 2000:231).

Berdasarkan hasil penelitian yang tim peneliti lakukan terhadap 87 orang Pengunjung Warnet Triple G II Medan, kurang lebih 77 orang gemar membuka situs porno dengan berbagai kategori. Jika pada satu warnet yang membuka situs porno sebanyak data yang diperoleh pada penelitian ini, maka dapat dikuantitatifkan berapa banyak pengunjung melakukan hal yang sama. Dan apalagi bila pengunjung tersebut lebih didominasi oleh para remaja, khusunya lagi pelajar, dikarenakan letak warnet yang dekat dengan mereka.

Hal yang terjadi sesuai dengan pendapat yang dinyatakan oleh beberapa ahli yang telah disebutkan sebelumnya. Remaja akan kehilangan kontrol dirinya dan akan melakukan hal-hal menyimpang ketika ada sesuatu yang menstimulasi perasaannya, seperti masturbasi atau juga melakukan hubungan seks dengan orang lain. Dan dampak dari perilaku menyimpang tersebut sudah dapat diperkirakan. Putus sekolah, pernikahan dini, hamil pranikah, praktek aborsi, bahkan terjangkit penyakit-penyakit yang membahayakan, seperti terjangkit HIV-AIDS yang sampai saat ini belum ada penawarnya.

Menurut pengamatan tim peneliti, ada beberapa faktor yang menyebabkan tingginya tingkat pemakai situs porno, yaitu sebagai berikut :
  1. Tingkat perkembangan remaja yang ingin menemukan jati dirinya, seperti perkembangan biologis yang mencakup kematangan alat-alat reproduksi, perkembangan psikologis yang mencakup kematangan kognitif, emosi, kepribadian, dan moral, atau juga perkembangan social yang lebih dipengaruhi oleh lingkungan sekitar yang terdekat dengan remaja.
  2. Keberadaan dan ketersedian fasilitas yang mendukung. Hal ini mengarah pada banyaknya warnet-warnet yang memberikan sajian ekstra (situs porno) yang dapat dinikmati dengan biaya yang murah dan keamanan yang lebih terjamin. Untuk warnet Triple G II Medan, memberikan harga promosi yang cukup murah kepada pengunjungnya, khusunya bagi para pelajar. Hanya dengan membayar Rp. 2.500,00 per-jamnya, pengunjung dapat menggunakan fasilitas yang ada diwarnet tersebut. Harga tersebut bisa dikatakan lebih murah jika dibandingkan dengan membeli atau menyewa kaset VCD porno di rental-rental VCD.
  3. Kurangnya perhatian dan ketegasan hukum dari Aparatur Pemerintahan setempat terhadap para pengusaha warnet yang memberikan layanan situs porno. Seperti pernyataan yang peneliti pada bagian sebelumnya, bahwa tindakan penyediaan situs porno di warung-warung internet sama dengan tindakan penyebaran VCD/VCD porno.
  4. Minimnya pengetahuan agama yang dimiliki oleh para remaja. Sekolah sebagai lembaga yang menyalurkan ilmu pengetahuan dan teknologi kepada siswanya hendaknya juga dibarengi dengan membentengi siswa dengan nilai-nilai religi yang kuat. Sehingga remaja dapat memilah-pilah mana hal yang baik untuk dilakukan dan mana hal yang harus dihindarkan.
Pengaruh Situs Porno Terhadap Etika Generasi Muda

Dorongan seks pada diri manusia jika mendapat stimulus, maka akan mendorong orang tersebut untuk melampiaskan hasratnya (Sarwono, 2002:21). Situs porno yang menjadi konsumsi pengunjung internet akan membangkitkan gairah seks pengunjung tersebut untuk menyalurkan hasratnya. Apakah sekompleks adegan yang disajikan seperti melakukan hubungan senggama dengan orang lain atau lebih sederhana lagi dengan melakukan masturbasi.

Hal ini dapat dilihat dari hasil pengolahan data yang tim peneliti peroleh dari pengunjung yang gemar membuka situs porno. Mulai dari sikap seks, melakukan hubungan seks, masturbasi, sampai kepuasan pribadi menunjukkan frekuensi yang cukup tinggi.

Frekuensi tertinggi untuk perilaku menyimpang remaja setelah membuka situs porno tampak pada kebiasaan melakukan masturbasi, bahkan sebanyak 50 orang pengunjung menyatakan dirinya terdorong ingin melakukan hubungan seks setelah melihat situs porno tersebut. Untuk bermasturbasi secara normal mungkin masih diterima akal jika hal itu yang terjadi, tetapi jika tuntutan untuk melakukan hubungan seks pada remaja lebih kuat apakah juga masih dapat diterima akal?

Sehingga tidak mengherankan jika banyak anak-anak remaja yang putus sekolah dengan alasan telah hamil di luar nikah.

Remaja tidak lagi merasa canggung untuk melakukan hal-hal negatif bersama lawan jenisnya, berlaku tidak jujur kepada orang tua dan guru, dan yang paling penting perasaan berdosa kepada Tuhan Yang Maha Esa karena melakukan hal-hal yang melanggar hukum tuhan.

KESIMPULAN

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan terhadap para Pengunjung Warnet Triple G II Medan untuk mengetahui korelasi antara situs porno terhadap etika generasi muda, menunjukkan pengaruh yang signifikan di antara keduanya. Para pengunjung warnet lebih gemar membuka situs porno, seperti tulisan porno, gambar porno, karikatur porno, dan film porno, daripad memnambah pengetahuan tentang perkembangan yang terjadi di seluruh penjuru dunia.

Dan dampak dari kebiasaan membuka situs porno tersebut terhadap etika generasi muda adalah munculnya perilaku seks remaja yang menyimpang seperti sikap seks, kepuasan pribadi, masturbasi, dan mendorong remaja untuk melakukan hubungan seks.

DAFTAR PUSTAKA

BP-7 Pusat.(1993). Bahan Penataran Penghayatan dan Pengamalan Pancasila, UUD 1945. GBHN: Jakarta.

Gilbert, I, dan Reinda Lumoindong.(1996). Pelacuran di Balik Seragam Sekolah. Yogyakarta: Yayasan Andi (Anggota IKAPI).

Purwandi, H, Daniel.(1997). Mengenal Internet Jaringan Informasi Dunia. Jakarta: Alex Media Komputindo

Rakhmat, Jalaluddin.(2000). Psikologi Komunikasi. Bandung: Remaja Rosdakarya .(2002). Metode Penelitian Komunikasi. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Sudarsono.(1991). Etika Islam tentang Kenakalan Remaja. Jakarta: Rhineka Cipta

Sugiyono.(2000). Statistik untuk Penelitian. Bandung: Alfabetha

Sarwono, Sarlito,W.(2002). Psikologi Remaja. Jakarta: Rajagrafindo Persada

Anda sekarang sudah mengetahui Artikel dan Makalah mengenai Dampak Negatif Situs PornoGenerasi Muda. Terima kasih anda sudah berkunjung ke Perpustakaan Cyber.